Truk Trailer Muatan Pupuk Terjun Kesungai, Diduga Supir Mengantuk

PATIJejakLensa.com | Sebuah kedipan mata mengubah segalanya. Dalam hitungan detik, truk tronton bermuatan puluhan ton pupuk urea terjun bebas ke Sungai Kaliombo, Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Sabtu (13/12/2025) sekitar pukul 03.00 WIB.

Truk bernomor polisi H 8237 OH yang dikemudikan Supriyanto (48) itu meluncur tanpa kendali, menghantam pembatas jembatan hingga jebol, sebelum akhirnya miring dan tenggelam sebagian ke dasar sungai.

Kecelakaan itu bukan sekadar musibah lalu lintas biasa. Di baliknya, tersimpan cerita kelelahan ekstrem yang kerap luput dari perhatian publik.

Supriyanto mengaku telah mengemudi non-stop selama dua hari dua malam, menempuh perjalanan panjang dari Palembang menuju Lasem, Kabupaten Rembang. Jalanan sepi, hujan rintik, dan tubuh yang dipaksa bertahan menjadi kombinasi mematikan.

“Saya cuma kedip. Tidak sadar sudah keluar jalur,” ujar Supriyanto, mengenang detik-detik blackout yang hampir merenggut nyawanya.

Saat kejadian, truk melaju dari arah barat menuju Rembang. Di atas jembatan Kaliombo, kendaraan berat itu mendadak keluar jalur, menabrak besi pembatas, lalu terjun ke sungai.

Kondisi truk rusak parah. Bagian kepala dan badan truk berada di dalam sungai, sementara muatan pupuk urea tumpah dan berserakan di dasar sungai. Selain kerusakan kendaraan, insiden ini menimbulkan kekhawatiran pencemaran lingkungan serta merusak fasilitas jembatan.

Beruntung, Supriyanto berhasil menyelamatkan diri dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan tidak kecil: truk rusak berat, puluhan ton pupuk hilang, dan proses evakuasi memakan waktu lama.

Insiden itu juga sempat melumpuhkan arus lalu lintas di jalur Pantura Pati–Juwana, menyebabkan kemacetan panjang dan mengganggu perjalanan ratusan pengendara lain.

Kanit Gakkum Satlantas Polresta Pati, Ipda Muh Apri Hermawan, menegaskan bahwa mengemudi dalam kondisi kelelahan ekstrem sangat berbahaya.

“Kondisi kelelahan setara dengan menyetir dalam keadaan mabuk. Refleks hilang, konsentrasi nol, dan risiko kecelakaan meningkat drastis,” tegasnya.

Ia juga menyoroti tekanan dari perusahaan logistik yang kerap menuntut sopir mengejar target waktu tanpa memperhatikan batas kemampuan fisik pengemudi.

Kisah Supriyanto menjadi potret buram dunia transportasi darat: target distribusi yang menekan, waktu istirahat yang dikorbankan, dan keselamatan yang dipertaruhkan.

Kecelakaan ini bukan sekadar soal truk terjun ke sungai. Ia adalah alarm keras bagi industri logistik, regulator, dan seluruh pengemudi—bahwa keselamatan tidak boleh dikalahkan oleh tenggat waktu.

Karena dalam dunia lalu lintas, satu kedipan mata bisa berujung petaka.

(Red.)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *