Suasana Damai dan Keterbukaan di Desa Asempapan: Pemerintah Desa Tegaskan Perdes Bukan Produk Abal-Abalan

PATI, JejakLensa.com – Aksi damai yang sempat mencuat di media sosial terkait perubahan Peraturan Desa (Perdes), persoalan infrastruktur, dan isu limbah air yang masuk ke wilayah desa, mendapat tanggapan langsung dari Kepala Desa Asempapan.

Dalam pernyataannya, Kepala Desa menegaskan bahwa Perdes yang ada bukanlah produk sembarangan, melainkan hasil kesepakatan bersama tokoh-tokoh masyarakat yang sah.

“Perdes ini bukan abal-abalan. Dibuat, dibahas, dan disahkan melalui forum resmi yang dihadiri tokoh masyarakat, BPD, RT/RW, Limas, PKK, karang taruna, hingga tokoh agama. Semua difasilitasi secara terbuka di desa,” jelasnya.

Ia menambahkan, seluruh proses telah melalui rembug desa dengan suasana kondusif dan demokratis.

“Kegiatan yang dilakukan pemerintah desa bukan kegiatan liar. Semuanya memiliki dasar hukum dan kesepakatan bersama,” imbuhnya.

Terkait perubahan waktu pelaksanaan acara Haul Mbah Panggeng dari bulan Bakda Mulud ke bulan Apit, Kepala Desa menjelaskan bahwa keputusan tersebut juga diambil melalui musyawarah yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

“Akhirnya disepakati bersama, acara haul dialihkan ke bulan Apit agar situasi tetap kondusif,” ujarnya.

Menanggapi adanya aksi sebagian warga yang menyuarakan pendapat di media sosial, pihak desa menegaskan tidak menutup ruang dialog.

“Kalau memang masyarakat ingin mengkaji ulang, kami akan fasilitasi. Tapi semua harus sesuai prosedur dan musyawarah bersama,” tegasnya.

Soal isu limbah, Kepala Desa menjelaskan bahwa aliran limbah tambak dan pertanian di wilayah Asempapan sudah ada sejak lama, bahkan sebelum masa kepemimpinannya.

“Limbah itu justru membantu sektor pertanian. Petani bisa panen dua sampai tiga kali setahun karena adanya pasokan air itu. Kami melihat dari asas manfaat yang lebih besar,” ungkapnya.

Namun demikian, ia memastikan pemerintah desa tetap terbuka terhadap masukan dan aspirasi warga, termasuk jika ada yang menilai perlu ada peninjauan ulang.

“Silakan disampaikan secara baik, nanti kita bahas bersama. Pemerintah desa tidak menutup diri,” katanya.

Terkait tudingan arogansi atau kesewenang-wenangan, ia menampik tegas.

“Arogannya di mana? Kami melayani masyarakat dengan adil dan bijaksana. Pemerataan pembangunan berjalan, dan desa tetap kondusif,” tuturnya menegaskan.

Dengan nada optimistis, ia menutup pembicaraan bahwa Asempapan tetap solid dan damai.

“Slogan kami jelas: tiada lawan, semua kawan. Desa Asempapan tetap adem, ayem, tenteram,” pungkasnya.

(Red.)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *